Logo Desa

Arsip Berita & Artikel

Agenda

Ups...!

Untuk sementara data bagian ini belum tersedia, mohon maaf atas ketidaknyamannya

Media Sosial Desa

Media Sosial
Desa Sinduwati Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem

Logo DesaProfil Desa

Jenis Tanah : Sawah
Topografi : Perbukitan
Sumber Daya Alam : Air, Pemandangan Alam
Flora Fauna : Bambu, monyet liar
Rawan Bencana : Banjir, Tanah Longsor
Kearifan Lokal : Tradisi, Budaya dan nilai-nilai leluhur yang masih dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat (Awig-Awig, Pelestarian Kawasan Suci, Ritual dan Upacara Keagamaan Berkala, dan Tradisi Gotong Royong atau Ngayah)
Jenis Jaringan : Fiber Optik
Provider Internet : Telkomsel, Biru Desa, Iconnet, IM3, XL-Axiata
Cakupan Wilayah : Seluruh wilayah Desa Sinduwati
Kecepatan Internet : 50Mbps
Akses Publik : Belum adanya akses publik terhadap jaringan internet di desa atau tidak tersedia secara merata di seluruh wilayah desa
Status Desa : Bukan Adat
Lembaga Adat : Majelis Adat
Struktur Adat : -
Wilayah Adat : Wilayah Adat di desa meliputi keseluruhan areal teritorial adat yang batas-batasnya ditentukan secara turun-temurun berdasarkan Awig-awig serta kepercayaan masyarakat setempat. Wilayah ini terbagi ke dalam beberapa Banjar Adat atau Tempek yang masing-masing menaungi kawasan permukiman warga, areal Setra (Pemakaman Adat), serta kawasan suci tempat berdirinya Pura Kahyangan Tiga (Pura Desa, Pura Puseh, Dan Pura Dalem) beserta fasilitas penunjang kegiatan ritual keagamaan umat Hindu.
Kegiatan Adat : Kegiatan adat yang rutin dilaksanakan di desa meliputi rangkaian upacara keagamaan dan ritual berkala berdasarkan sistem penanggalan Hindu (Saka/Bali), seperti pelaksanaan upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga, upacara persembahyangan rutin pada hari Purnama dan Tilem, serta kegiatan gotong royong warga seperti ngayah dalam rangka persiapan upacara keagamaan dan pemeliharaan kebersihan areal suci serta fasilitas desa adat secara periodik.
Regulasi Penetapan [Desa] Adat :
Dokumen Regulasi Penetapan Kampung Adat : -
}

Video

Pusat informasi dan referensi Desa Sinduwati

Pemerintah Desa Sinduwati

Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem Provinsi Bali

Alamat : Jl Raya Sinduwati - Semarapura Kode Pos : 80864



MERAWAT KERUKUNAN DARI JEJAK SEJARAH, WARGA SINDUWATI BANGUN PERSAUDARAAN LINTAS AGAMA

16

September
2026

Dibuka
235 kali

16 September 2026 ☆ 12:08:56

 

235 kali dibuka

 

Administrator

Perbesar Gambar

Sinduwati.web.id - Kerukunan umat beragama di Desa Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, tidak hanya tercermin dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tetapi juga dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan sosial dan sejarah masyarakat setempat. Di tengah keberagaman keyakinan, warga Desa Sinduwati terus menjaga hubungan sosial melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan komunikasi antarwarga. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam mempertahankan kehidupan masyarakat yang harmonis. Sejarah kehidupan masyarakat Bali menunjukkan bahwa hubungan sosial antarwarga dibangun melalui berbagai bentuk interaksi, mulai dari kehidupan bertetangga, kegiatan ekonomi, hingga kerja sama dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Dalam konteks lokal, pengalaman hidup bersama tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk budaya toleransi.

Dalam sebuah dialog tentang kerukunan umat beragama, seorang tokoh masyarakat Hindu dan tokoh masyarakat Muslim di Sinduwati menggambarkan bahwa perbedaan agama tidak semestinya menjadi penghalang dalam kehidupan bermasyarakat. “Kalau kita melihat perjalanan masyarakat dari masa ke masa, kita menyadari bahwa kehidupan bersama dibangun dari hubungan antarmanusia. Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab sebagai warga masyarakat,” ujar tokoh masyarakat Hindu dalam dialog tersebut. Pandangan senada disampaikan tokoh masyarakat Muslim. “Kerukunan bukan berarti semua orang harus mempunyai keyakinan yang sama. Kerukunan justru berarti kita mampu menghormati perbedaan dan tetap bekerja sama dalam kehidupan sosial,” katanya. Menurutnya, pengalaman sejarah masyarakat penting dikenalkan kepada generasi muda. Dengan memahami bagaimana masyarakat sebelumnya membangun hubungan sosial, generasi muda diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat memicu prasangka dan perpecahan.

Salah satu kekuatan dalam menjaga kerukunan adalah gotong royong. Dalam kehidupan masyarakat, kerja sama tidak selalu didasarkan pada kesamaan agama, melainkan pada kesadaran bahwa persoalan sosial merupakan tanggung jawab bersama. “Ketika ada warga yang mengalami musibah, yang datang membantu adalah tetangga dan masyarakat. Di situlah kita melihat bahwa kemanusiaan menjadi titik temu,” kata tokoh masyarakat Hindu tersebut. Gotong royong juga menjadi ruang perjumpaan antarwarga. Melalui interaksi yang berulang, masyarakat dapat saling mengenal dan memahami kebiasaan masing-masing. Tokoh masyarakat Muslim menambahkan bahwa hubungan baik antartetangga perlu terus dipelihara. “Kadang kerukunan tidak perlu diwujudkan melalui kegiatan yang besar. Menjaga hubungan baik, menghormati kegiatan ibadah, membantu tetangga dan berkomunikasi ketika ada persoalan sudah menjadi bagian penting dari kerukunan,” ujarnya.

Kerukunan juga terlihat dari sikap saling menghormati kegiatan keagamaan masing-masing. Setiap umat memiliki ritual, tradisi, dan tata cara ibadah yang berbeda. Perbedaan tersebut membutuhkan sikap saling memahami. Dalam dialog yang berlangsung di Aula Kantor Desa Sinduwati pada hari Rabu, 16 September 2026, kedua tokoh sepakat bahwa toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama. Sebaliknya, toleransi diwujudkan dengan memberikan kesempatan kepada setiap umat untuk menjalankan keyakinannya dengan tenang serta menjaga hubungan sosial di lingkungan bersama. “Keyakinan masing-masing harus tetap dihormati. Yang kita bangun adalah hubungan sosialnya,” ujar tokoh masyarakat Hindu. Kerukunan masyarakat saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Perkembangan media sosial membuat informasi dari berbagai daerah dapat diterima masyarakat dalam waktu singkat. Informasi yang tidak benar atau konten yang mengandung sentimen keagamaan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila diterima tanpa pemeriksaan. Karena itu, masyarakat dinilai perlu memperkuat komunikasi langsung.

“Kalau ada persoalan, jangan langsung percaya pada informasi yang beredar. Lebih baik bertanya, berdialog, dan mencari informasi yang benar,” kata tokoh masyarakat Muslim. Menurutnya, kebiasaan berdialog merupakan bagian penting dari upaya menjaga kerukunan. Hubungan yang telah terbangun dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi modal sosial ketika masyarakat menghadapi persoalan. Kedua tokoh tersebut juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam kegiatan kemasyarakatan. Kerukunan tidak cukup hanya diwariskan dalam bentuk nasihat, tetapi perlu dialami secara langsung. Generasi muda dapat dilibatkan dalam kegiatan sosial, kebudayaan, olahraga, lingkungan, kepemudaan, serta berbagai kegiatan masyarakat yang mempertemukan warga dari latar belakang berbeda. “Anak-anak muda harus mengalami sendiri bagaimana rasanya bekerja sama dengan orang yang berbeda agama. Dari pengalaman itu mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh,” ujar tokoh masyarakat Hindu. Tokoh masyarakat Muslim menambahkan bahwa sejarah lokal juga perlu diceritakan secara lebih baik. “Jangan sampai generasi muda hanya mengenal sejarah konflik dari media sosial, sementara sejarah kehidupan bersama di lingkungan sendiri tidak mereka ketahui,” katanya.

Kerukunan umat beragama di Desa Sinduwati pada akhirnya bukan sekadar slogan, melainkan proses sosial yang harus terus dirawat. Pengalaman sejarah, hubungan bertetangga, gotong royong, komunikasi, dan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing menjadi bagian dari modal sosial masyarakat. Dialog lintas agama juga memiliki peran strategis untuk memperkuat kepercayaan antarkelompok. Dengan saling bertemu dan berbicara, masyarakat memiliki kesempatan untuk memahami perbedaan secara langsung, bukan melalui prasangka. Bagi masyarakat Sinduwati, menjaga kerukunan berarti menjaga kehidupan bersama yang telah dibangun dari waktu ke waktu. Sebab, sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Sejarah juga menjadi pelajaran untuk menentukan bagaimana masyarakat menjalani kehidupan bersama pada masa kini dan mewariskan perdamaian kepada generasi mendatang. Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kehidupan sosial. Dari sejarah kebersamaan itulah kerukunan terus dirawat di Desa Sinduwati.

Kerukunan umat beragama di Desa Sinduwati, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, tidak hanya tercermin dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tetapi juga dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan sosial dan sejarah masyarakat setempat. Di tengah keberagaman keyakinan, warga Desa Sinduwati terus menjaga hubungan sosial melalui sikap saling menghormati, gotong royong, dan komunikasi antarwarga. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting dalam mempertahankan kehidupan masyarakat yang harmonis. Sejarah kehidupan masyarakat Bali menunjukkan bahwa hubungan sosial antarwarga dibangun melalui berbagai bentuk interaksi, mulai dari kehidupan bertetangga, kegiatan ekonomi, hingga kerja sama dalam kehidupan sosial dan kemasyarakatan. Dalam konteks lokal, pengalaman hidup bersama tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk budaya toleransi.

Dalam sebuah dialog tentang kerukunan umat beragama, seorang tokoh masyarakat Hindu dan tokoh masyarakat Muslim di Sinduwati menggambarkan bahwa perbedaan agama tidak semestinya menjadi penghalang dalam kehidupan bermasyarakat. “Kalau kita melihat perjalanan masyarakat dari masa ke masa, kita menyadari bahwa kehidupan bersama dibangun dari hubungan antarmanusia. Kita boleh berbeda keyakinan, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab sebagai warga masyarakat,” ujar tokoh masyarakat Hindu dalam dialog tersebut. Pandangan senada disampaikan tokoh masyarakat Muslim. “Kerukunan bukan berarti semua orang harus mempunyai keyakinan yang sama. Kerukunan justru berarti kita mampu menghormati perbedaan dan tetap bekerja sama dalam kehidupan sosial,” katanya. Menurutnya, pengalaman sejarah masyarakat penting dikenalkan kepada generasi muda. Dengan memahami bagaimana masyarakat sebelumnya membangun hubungan sosial, generasi muda diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat memicu prasangka dan perpecahan.

Salah satu kekuatan dalam menjaga kerukunan adalah gotong royong. Dalam kehidupan masyarakat, kerja sama tidak selalu didasarkan pada kesamaan agama, melainkan pada kesadaran bahwa persoalan sosial merupakan tanggung jawab bersama. “Ketika ada warga yang mengalami musibah, yang datang membantu adalah tetangga dan masyarakat. Di situlah kita melihat bahwa kemanusiaan menjadi titik temu,” kata tokoh masyarakat Hindu tersebut. Gotong royong juga menjadi ruang perjumpaan antarwarga. Melalui interaksi yang berulang, masyarakat dapat saling mengenal dan memahami kebiasaan masing-masing. Tokoh masyarakat Muslim menambahkan bahwa hubungan baik antartetangga perlu terus dipelihara. “Kadang kerukunan tidak perlu diwujudkan melalui kegiatan yang besar. Menjaga hubungan baik, menghormati kegiatan ibadah, membantu tetangga dan berkomunikasi ketika ada persoalan sudah menjadi bagian penting dari kerukunan,” ujarnya.

Kerukunan juga terlihat dari sikap saling menghormati kegiatan keagamaan masing-masing. Setiap umat memiliki ritual, tradisi, dan tata cara ibadah yang berbeda. Perbedaan tersebut membutuhkan sikap saling memahami. Dalam dialog yang berlangsung di Aula Kantor Desa Sinduwati pada hari Rabu, 16 September 2026, kedua tokoh sepakat bahwa toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama. Sebaliknya, toleransi diwujudkan dengan memberikan kesempatan kepada setiap umat untuk menjalankan keyakinannya dengan tenang serta menjaga hubungan sosial di lingkungan bersama. “Keyakinan masing-masing harus tetap dihormati. Yang kita bangun adalah hubungan sosialnya,” ujar tokoh masyarakat Hindu. Kerukunan masyarakat saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Perkembangan media sosial membuat informasi dari berbagai daerah dapat diterima masyarakat dalam waktu singkat. Informasi yang tidak benar atau konten yang mengandung sentimen keagamaan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman apabila diterima tanpa pemeriksaan. Karena itu, masyarakat dinilai perlu memperkuat komunikasi langsung.

“Kalau ada persoalan, jangan langsung percaya pada informasi yang beredar. Lebih baik bertanya, berdialog, dan mencari informasi yang benar,” kata tokoh masyarakat Muslim. Menurutnya, kebiasaan berdialog merupakan bagian penting dari upaya menjaga kerukunan. Hubungan yang telah terbangun dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi modal sosial ketika masyarakat menghadapi persoalan. Kedua tokoh tersebut juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam kegiatan kemasyarakatan. Kerukunan tidak cukup hanya diwariskan dalam bentuk nasihat, tetapi perlu dialami secara langsung. Generasi muda dapat dilibatkan dalam kegiatan sosial, kebudayaan, olahraga, lingkungan, kepemudaan, serta berbagai kegiatan masyarakat yang mempertemukan warga dari latar belakang berbeda. “Anak-anak muda harus mengalami sendiri bagaimana rasanya bekerja sama dengan orang yang berbeda agama. Dari pengalaman itu mereka belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh,” ujar tokoh masyarakat Hindu. Tokoh masyarakat Muslim menambahkan bahwa sejarah lokal juga perlu diceritakan secara lebih baik. “Jangan sampai generasi muda hanya mengenal sejarah konflik dari media sosial, sementara sejarah kehidupan bersama di lingkungan sendiri tidak mereka ketahui,” katanya.

Kerukunan umat beragama di Desa Sinduwati pada akhirnya bukan sekadar slogan, melainkan proses sosial yang harus terus dirawat. Pengalaman sejarah, hubungan bertetangga, gotong royong, komunikasi, dan penghormatan terhadap keyakinan masing-masing menjadi bagian dari modal sosial masyarakat. Dialog lintas agama juga memiliki peran strategis untuk memperkuat kepercayaan antarkelompok. Dengan saling bertemu dan berbicara, masyarakat memiliki kesempatan untuk memahami perbedaan secara langsung, bukan melalui prasangka. Bagi masyarakat Sinduwati, menjaga kerukunan berarti menjaga kehidupan bersama yang telah dibangun dari waktu ke waktu. Sebab, sejarah bukan hanya tentang apa yang terjadi pada masa lalu. Sejarah juga menjadi pelajaran untuk menentukan bagaimana masyarakat menjalani kehidupan bersama pada masa kini dan mewariskan perdamaian kepada generasi mendatang. Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kehidupan sosial. Dari sejarah kebersamaan itulah kerukunan terus dirawat di Desa Sinduwati.

Kirim Komentar

Nama
No. Hp
E-mail
Isi Komentar
CAPTCHA Image
Komentar Facebook
jelajah

Desa Sinduwati

statistikdesa

Populasi Desa Sinduwati

Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem

2.541

LAKI-LAKI

2.527

PEREMPUAN

0

BELUM MENGISI

5.068

TOTAL

2.541

LAKI-LAKI

2.527

PEREMPUAN

0

BELUM MENGISI

5.068

TOTAL

Br Dinas

Layanan

Mandiri

Detail Layanan Mandiri

Hubungi Perangkat Desa Untuk mendapatkan PIN

Login Admin
Sekilas Info
Ke Atas Halaman

Desa Sinduwati

Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem Provinsi Provinsi Bali

Kode Desa : 5107022006

Domain : sinduwati.web.id

Untuk Aktivasi Tema Rangkiang
Silahkan Hubungi Pengembang